Cerpen Online. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Kekasih Pertama Davia


Sore itu hujan turun. Terlihat air yang turun dari langit, lalu mengalir dari atas genting dan kemudian turun ke bumi. Bunga-bunga di depan rumah basah, begitu pula rumput-rumput disekitarnya. Tapi beruntung hujan kali ini sudah sudah reda. Hanya terlihat rintik-rintik air yang turun.
Davia menyandarkan kepalanya dikursi dekat jendela. Sedari hujan turun, ia terus memandangi keluar jendela. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Hanya terdiam dan terdiam.

Tiba-tiba terdengar suara hanphone berdering dari maja dekat Davia duduk. Suara handphone itu memecahkan lamunan Davia. Ia segera meraih hanphone-nya. Rupanya satu pesan telah ia terima.
Vi, nanti kita ketemu di taman  jam 7 malam, ya? Aku tunggu, loh! Aku pingin kasih kamu sesuatu. Malla.
Rupanya pesan itu dari Malla, sahabat Davia.
Iya. Tapi ada apaan sih La? Kamu mau kasih apa ke aku?
Davia membalas pesan Malla. Namun sampai satu jam kemudian Malla tidak membalas pesan Davia. Davia jadi penasaran. Kira-kira apa, ya yang akan dikasih oleh Malla? Sahabatnya yang satu ini memang suka memberi kejutan.
Pernah ketika Davia berulang tahun, ia dikerjain habis-habisan oleh Malla. Malla memang jago kalau soal urusan sureprise.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit. Davia masih mempersiapkan diri untuk pergi menemui Malla di taman.
“Vi, kamu mau kemana?” Tiba-tiba seorang laki-laki lantas membuka pintu kamarnya. Dan ternyata ia adalah mas Danang, kakak Davia.
“Mau ke taman kota, mas. Tadi Malla SMS aku. Katanya aku suruh kesana.”
“Oh, iya sudah hati-hati. Ingat! Jangan pulang malam-malam.”
“Iya, mas. Bawel banget, sih”
Davia segera pergi menemui Malla di taman kota.
Sesampainya di dapan taman kota, Davia berhenti sejenak. Sepintas ia seperti melihat sesosok laki-laki yang ia kenal. Tapi entah siapa dia, Davia tidak bisa mengingatnya. Karena sudah tidak sabar mengetahui surprise apa yang akan diberikan oleh sahabatnya, Davia segera menemui Malla.
Davia mencari-cari dimana posisi Malla. Dan pada akhirnya Davia menemukan sahabatnya itu. Davia segera menghampiri Malla.
“Hai, La! Kamu mau kasih aku sureprise apa lagi sih? Kebiasaan, deh!” tanya Davia penasaran.
“Sini! Duduk Dulu! Tapi kamu janji jangan marah, ya?” Davia semakin dibuat penasaran oleh Malla.
Malla terlihat sedang mencari seseorang. Apapun yang dilakukan Malla, Davia benar-benar tidak mengerti. Davia terlihat asyik dengan jus apel yang telah dibelikan oleh Malla.
Tiba-tiba Malla tersenyum manis sambil menunjuk kearah belakang Davia. “Itu dia  orangnya.”
Davia mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Malla. Setelah itu Davia menoleh ke arah belakang. Davia benar-benar terkejut ketika melihat sosok laki-laki memakai jaket biru, celana jeans panjang. Davia kaget dan kemudian berdiri memandangi laki-laki itu.
“Hai, Vi!” sapa laki-laki itu.
“Vi, sesuatu yang mau aku kasih ke kamu itu ya ini.” Ucap Malla.
Davia tak dapat berkata apa-apa setelah melihat laki-laki itu. Namanya Farel. Ia adalah mantan pacar Davia. Mereka berdua sudah putus dua tahun yang lalu. Farel meninggalkan Davia karena Davia jarang ada waktu untuk Farel. Davia jarang menemui Farel karena kegiatannya di sekolah sebagai pengurus OSIS dan setelah pulang sekolah Davia kursus melukis. Meskipun begitu, Davia tetap menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya pada Farel. Sedangkan Farel sendiri disibukkan dengan kegiatan yang merupakan hobinya, yaitu sepakbola.
Hubungan mereka harus berakhir karena adanya pihak ketiga yang hadir merusak hubungan mereka. Namanya Anggun. Dia selalu dekat dengan Farel ketika di kelas. Hingga akhirnya Farel merasa jatuh hati pada Anggun. Parahnya, Farel lebih memilih Anggun daripada Davia karena Anggun selalu dekat dengan Farel.
Setelah setahun kelulusan, akhirnya mereka bertemu lagi karena ulah Malla yang sengaja mempertemukan mereka berdua. Padahal saat itu Davia nyaris melupakan masa lalunya itu walau tidak seratus persen. Malla pun meninggalkan mereka berdua agar mereka bisa berbicara dengan leluasa.
Farel memegang tangan Davia. Farel menatap Davia dengan penuh harapan. Davia pun masih terdiam membisu seolah tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Mata Davia berkaca-kaca ingin menangis.
“Vi, aku ingin bicara sama kamu. Aku ingin minta maaf sama kamu karena aku sudah ninggalin kamu demi mendapatkan belaian dari seorang kekasih. Aku tau kamu sayang banget sama aku, Vi. Aku minta maaf sama kamu. Dan sekarang aku ingin kita kembali sama kamu. Aku janji Vi gak akan sia-siakan kamu lagi.” Dengan itu, Farel memberanikan diri untuk berkata bahwa ia ingin kembali pacaran lagi dengan Davia.
Perlahan-lahan air mata Davia menetes. Dalam ingatannya saat itu adalah teringat akan masa-masa dimana Farel selalu membuat Davia sakit hati dengan terus memperlihatkan kedekatannya dengan Anggun. Dan Farel tidak sedikitpun mempedulikan Davia. Namun saat itu teringat pula kenangan-kenangan indah bersama Farel ketika mereka masih bersama. Kata-kata cinta dan sayang yang selalu terucap dan tercurah diantara mereka dulu. Hati Davia terasa sakit malam itu.
Davia memeluk Farel.
“Farel, Davia kangen sama Farel. Tapi Davia tidak tau apakah Davia siap kembali lagi sama Farel. Davia sayang banget sama Farel.” Davia melepas pelukannya. Ia meneruskan kata-katanya.
“Farel, kamu gak tau gimana rasanya jadi aku yang di duakan, Rel. Kamu gak tau gimana perasaanku ketika kamu bilang ingin memutuskan hubungan kita. Padahal aku sayang banget sama kamu, Rel. Tega, ya kamu. Dan kamu gak tau apa yang ...”
Belum sempat meneruskan kata-katanya, Farel menempelkan jari telunjuknya ke bibir Davia. Farel memotong kata-kata Davia.
“Dan aku tau apa yang sudah kamu korbankan untuk aku, Vi. Malla sudah cerita semuanya ke aku. Bahkan selama ini kamu menahan perasaanmu pada orang lain demi menunggu cintaku kembali, Vi. Maafkan, aku, Vi!” Farel memeluk Davia. “Aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku, Vi!”
“Aku gak bisa jawab sekarang, Rel.” Davia melepaskan pelukan Farel dan pergi meninggalkan Farel di taman itu.
Diperjalanan pulang Davia teringat akan apa yang telah terjadi dengannya tadi. Tiba-tiba Farel datang dan memohon kembali kepada Davia. Sakit di hati Davia belum terobati karena ulah Farel. Davia tidak bisa melupakan apa yang telah Farel perbuat pada dirinya.
Sesampainya dirumah, Davia langsung masuk menuju kamarnya. Ia melempar tasnya dan merebahkan diri di ranjang tempat tidur. Air mata Davia masih tetap mengalir. Yang ia ingat malam itu adalah masa pacarannya dulu dengan Farel, masa dimana Farel menyakiti Davia, dan peristiwa malam itu.
Tiba-tiba handphone Davia berdering. Dua pesan telah ia teriama. Pesan tersebut dari Malla dan Farel
Farel.Vi, maafkan aku. Aku yakin kamu masih sayang sama aku, Vi. Beri aku kesempatan, Vi. Satu hal yang harus kamu tau. Aku akan menunggu jawabanmu.
Dan satu lagi pesan dari Malla.
Malla.Vi, gimana tadi kamu sama Farel? Kalian pasti balikan, kan? Aku tau kamu kan masih sayang sama Farel.
Tak satupun dari dua pesan itu yang dibalas oleh Davia.
Davia merasa lelah dengan perisatiwa malam ini. Akhirnya ia tertidur pulas bersama buku diary-nya.
Dear diary.Di, hari ini aku lelah. Aku benar-benar lelah.Sahabatku Malla telah mempertemukan aku dengan Farel, pacar pertamaku sekaligus mantan pacar pertamaku. Kamu sudah tau dia, kan, Di.Farel berkata padaku bahwa ia ingin kembali lagi padaku. Katakan padaku, Di! Apa yang harus aku lakukan, Di? Aku memang masih sayang padanya, Di. Tapi rasanya hatiku masih sakit ketika teringan oleh apa yang pernah ia lakukan padaku.Aku bimbang, Di.
Itulah yang ditulis Davia dalam buku diarynya.
Hari ini adalah hari minggu. Davia sendirian dirumah. Mas Danang pergi bersama Mbak Laras, pacarnya. Sedangkan mama dan papa Davia pergi ke rumah sakit mengunjungi temannya yang sedang sakit. Tapi Davia memutuskan untuk tidak keluar pada hari itu.
Kegalauan masih menyelimuti hati Davia karena peristiwa semalam. Selera makan hari itupun tak ada dalam diri Davia. Davia sedari pagi hanya terdiam. Mondar-mandir, kesana kemari, berpindah tempat duduk sesuka hati.
Rindu melanda hati Davia. Ia sebenarnya ingin memberi kesempatan Farel. Namun Davia ragu. Davia mengambil handphone di kamarnya. Ia mengirim pesan untuk Farel.
Davia.Temui aku jam tiga sore ditempat tadi malam.
Beberapa menit kemudian, balasan pesan dari Farel telah ia terima.
Farel.Iya, Vi. Aku pasti datang.
Waktu terus berjalan hingga akhirnya menunjukkan pukul tiga kurang sepuluh menit. Davia segera mempersiapkan diri untuk menemui Farel. Davia pun berangkat.
Sesampainya di taman, Davia berhenti berjalan dan menatap sosok laki-laki yang akan ia temui, Farel. Davia dengan perlahan-lahan berjalan menghampiri Farel sambil menatap Farel dalam-dalam. Ketika sampai tepat di depan Farel, Davia pun masih terdiam.
“Hai, Vi!” Farel memulai membuka percakapan diantara mereka.
“Farel, maafkan aku karena selama ini aku jarang mendekatimu. Aku terlalu sibuk dengan urusanku dan aku juga terlalu membiarkanmu jarang menemui aku. Tapi kamu juga harus meminta maaf padaku karena hal yang sama, Rel.” Ucap Davia secara perlahan-lahan. Air mata Davia perlahan-lahan keluar.
Mereka masih saling bertatapan. Kemudian Farel memeluk Davia.
Farel berkata, “ Iya, Vi. Aku minta maaf. Aku janji gak akan menyia-nyiakan kamu lagi, Vi. Kamu yang terbaik buat aku, Vi. Aku sayang kamu.”
“Aku juga sayang kamu, Rel.”


Davia melepas pelukan Farel. Farel pun mengusap air mata yang mengalir di pipi Davia. Kemudian Davia memegang tangan Farel.
Davia berkata, “Rel, kamu tau, kan bahwa aku sayang banget sama kamu?”
Farel menjawab, “Iya, Vi.”
Kemudian Davia bertanya lagi pada Farel. “Rel, kamu tau, kan aku masih mengharapkanmu?”
Dan Farel menjawab, “Iya, Vi, aku tau itu.”
“Kamu janji gak akan sia-siakan aku lagi?”
“Aku janji, Vi. Jadi, kamu mau balikan sama aku, Vi?” tanya Farel memastikan pertanyaan Davia. Davia mengangguk. “Serius, Vi?” Davia mengangguk lagi.
Farel terlihat senang mendengar hal itu. Dan Davia yang semula meneteskan air mata, kembali tersenyum karena melihat kegirangan Farel.
Dulu ketika Farel hendak memutuskan hubungannya Bersama Davia, Farel berkata bahwa ia akan kembali bila ia sudah bisa mencintai Davia lagi. Dan sekarang cinta itu kembali pada Farel.
Dan pada akhirnya, dua sejoli yang sama-sama berstatus baru pertama kali pacaran itu kembali lagi seperti dulu. Sejak hari itu, Farel selalu menyempatkan diri untuk Davia. Mereka sering jalan berdua, bergandengan tangan dan saling bercanda. Dan sejak saat itu pula senyum utuh Davia kembali utuh karena Farel.
Sesungguhnya, cinta yang indah itu di dasari dengan hati yang tulus dan pengertian yang kuat. Maka dari itu, suatu hubungan akan tetap utuh walau badai coba memisahkan.Ibarat dua ikan yang berenang melawan arus air, mereka tetap saling bergandengan untuk melawan arus itu bersama-sama.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar